Benarkah Tidak Cocok dengan Tradisi Islam Indonesia?

loading…

Prof Mahfud MD menilai paham Wahabi dan Salafi tak cocok dengan tradisi Islam yang ada di Indonesia. “Dibangun dengan Wahabi Salafi, enggak cocok di kita [Indonesia],” kata Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan ini dalam Seminar Pra-Muktamar Muhammadiyah ‘Menjaga Kedaulatan NKRI’ pada April 2022 lalu.

Sayang, Mahfud tidak merinci tentang apa itu Wahabi dan Salafi. Dia juga tidak menunjukkan di mana tidak cocoknya paham tersebut untuk Islam di Indonesia. Lalu apa sejatinya Salafi itu?

Syaikh Yusuf al-Qardhawi mengatakan yang dimaksud dengan “Pemikiran Salafi” ialah kerangka berpikir (manhaj fikri) yang tercermin dalam pemahaman generasi terbaik dari ummat ini. Yakni para Sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan setia, dengan mempedomani hidayah Al-Qur’an dan tuntunan Nabi SAW.

Baca juga: Polemik Wahabi: Pendirinya Hafal Al-Quran Sebelum Usia 10 Tahun

Dalam bukunya berjudul “Aulawiyaat Al Harakah Al Islamiyah fil Marhalah Al Qadimah“, al-Qardhawi menyebut kriteria manhaj Salafi yang benar yaitu suatu manhaj yang secara global berpijak pada 10 prinsip berikut:

1. Berpegang pada nash-nash yang ma’shum (suci), bukan kepada pendapat para ahli atau tokoh.
2. Mengembalikan masalah-masalah “mutasyabihat” (yang kurang jelas) kepada masalah “muhkamat” (yang pasti dan tegas). Dan mengembalikan masalah yang zhanni kepada yang qath’i.
3. Memahami kasus-kasus furu’ (kecil) dan juz’i (tidak prinsipil), dalam kerangka prinsip dan masalah fundamental.
4. Menyerukan “Ijtihad” dan pembaruan. Memerangi “Taqlid” dan kebekuan.
5. Mengajak untuk ber-iltizam (memegang teguh) akhlak Islamiah, bukan meniru trend.
6. Dalam masalah fiqh, berorientasi pada “kemudahan” bukan “mempersulit”.
7. Dalam hal bimbingan dan penyuluhan, lebih memberikan motivasi, bukan menakut-nakuti.
8. Dalam bidang aqidah, lebih menekankan penanaman keyakinan, bukan dengan perdebatan.
9. Dalam masalah Ibadah, lebih mementingkan jiwa ibadah, bukan formalitasnya.
10. Menekankan sikap “ittiba'” (mengikuti) dalam masalah agama. Dan menanamkan semangat “ikhtira'” (kreasi dan daya cipta) dalam masalah kehidupan duniawi.

Baca Juga:  10 Prestasi Muawiyah, Salah Satunya Membangun Armada Laut Pertama dalam Islam

“Inilah inti “manhaj salafi” yang merupakan khas mereka. Dengan manhaj inilah dibinanya generasi Islam terbaik, dari segi teori dan praktik. Sehingga mereka mendapat pujian langsung dari Allah di dalam Al-Qur’an dan Hadis-Hadis Nabi serta dibuktikan kebenarannya oleh sejarah,” ujar al-Qardhawi.

Menurutnya, merekalah yang telah berhasil mentransfer Al-Qur’an kepada generasi sesudah mereka. Menghafal Sunnah. Mempelopori berbagai kemenangan (futuh). Menyebarluaskan keadilan dan keluhuran (ihsan). Mendirikan “negara ilmu dan iman”. Membangun peradaban robbani yang manusiawi, bermoral dan mendunia. Sampai sekarang masih tercatat dalam sejarah.

Baca juga: Senja Kala Wahabi di Arab Saudi

Citra Salafiah Dirusak
Al-Qardhawi mengatakan istilah “Salafiah” telah dirusak citranya oleh kalangan yang pro dan kontra terhadap “salafiah”. Orang-orang yang pro-salafiah – baik yang sementara ini dianggap orang dan menamakan dirinya demikian, atau yang sebagian besar mereka benar-benar salafiyah – telah membatasinya dalam skop formalitas dan kontroversial saja, seperti masalah-masalah tertentu dalam Ilmu Kalam, Ilmu Fiqh atau Ilmu Tasawuf.

Mereka sangat keras dan garang terhadap orang lain yang berbeda pendapat dengan mereka dalam masalah-masalah kecil dan tidak prinsipil ini. Sehingga memberi kesan bagi sementara orang bahwa manhaj Salaf adalah metoda “debat” dan “polemik”, bukan manhaj konstruktif dan praktis.

Dan juga mengesankan, menurut al-Qardhawi, bahwa yang dimaksud dengan “Salafiah” ialah mempersoalkan yang kecil-kecil dengan mengorbankan hal-hal yang prinsipil. “Mempermasalahkan khilafiah dengan mengabaikan masalah-masalah yang disepakati. Mementingkan formalitas dan kulit dengan melupakan inti dan jiwa,” katanya.

Sedangkan pihak yang kontra-salafiah menuduh paham ini terbelakang, senantiasa menoleh ke belakang, tidak pernah menatap ke depan. Paham Salafiah, menurut mereka, tidak menaruh perhatian terhadap masa kini dan masa depan. Sangat fanatis terhadap pendapat sendiri, tidak mau mendengar suara orang lain. Salafiah identik dengan anti pembaruan, mematikan kreatifitas dan daya cipta. Serta tidak mengenal moderat dan pertengahan.

Baca Juga:  Sosok Khalifah yang Dijuluki Serba Delapan, Berikut Kisahnya

“Sebenarnya tuduhan-tuduhan ini merusak citra salafiah yang hakiki dan penyeru-penyerunya yang asli,” ujar al-Qardhawi.

Barangkali tokoh yang paling menonjol dalam mendakwahkan “salafiah” dan membelanya mati-matian pda masa lampau ialah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah beserta muridnya Imam Ibnul-Qoyyim. Mereka inilah orang yang paling pantas mewakili gerakan”pembaruan Islam” pada masa mereka. Karena pembaruan yang mereka lakukan benar-benar mencakup seluruh disiplin ilmu Islam.

Mereka telah menumpas paham “taqlid”, “fanatisme madzhab” fiqh dan ilmu kalam yang sempat mendominasi dan mengekang pemikiran Islam selama beberapa abad. Namun, di samping kegarangan mereka dalam membasmi “ashobiyah madzhabiyah” ini, mereka tetap menghargai para Imam Mazhab dan memberikan hak-hak mereka untuk dihormati. Hal itu jelas terlihat dalam risalah “Raf’l – malaam ‘anil – A’immatil A’lam” karya Ibnu Taimiyah.

Baca juga: Mahfud MD: Paham Wahabi dan Salafi Tidak Cocok di Indonesia

Demikian gencar serangan mereka terhadap “tasawuf” karena penyimpangan-penyimpangan pemikiran dan akidah yang menyebar di dalamnya. Khususnya di tangan pendiri mazhab “Al-Hulul Wal-Ittihad” (penyatuan). Dan penyelewengan perilaku yang dilakukan para orang jahil dan yang menyalahgunakan “tasawuf” untuk kepentingan pribadinya. Namun, mereka menyadari tasawuf yang benar (shahih).

Mereka memuji para pemuka tasawuf yang ikhlas dan robbani. Bahkan dalam bidang ini, mereka meninggalkan warisan yang sangat berharga, yang tertuang dalam dua jilid dari “Majmu’ Fatawa” karya besar Imam Ibnu Taimiyah.

Demikian pula dalam beberapa karangan Ibnu-Qoyyim. Yang termasyhur ialah “Madarijus Salikin syarah Manazil As-Sairin ila Maqomaat Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in”, dalam tiga jilid.

Source link

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Translate »
0
    0
    Your Cart
    Your cart is emptyReturn to Shop