Kisah Louis Farrakhan, Pemimpin Nation of Islam yang Hidup Bak Raja

loading…

Dia terlahir dengan nama Louis Eugene Walcott. Setelah bergabung dengan Nation of Islam, organisasi yang didirikan Elijah Muhammad, namanya diganti menjadi Louis Farrakhan. Sepeninggal Elijah Muhammad, ia mendirikan Nation of Islam “baru”. Ia hidup mewah bagaikan raja.

Berdirinya organisasi baru itu, setelah putra Elijah, Warith Deen Mohammed mengubah Nation of Islam menjadi Islam Sunni. Di sisi lain, para pengikut yang enggan dengan kepemimpinan Warith banyak yang kembali ke kehidupan lama. Ini membuat Louis Farrakhan naik pitam. “Kalian kembali minum alkohol, mengisap ganja, makan daging babi, dan berdansa,” ujarnya di hadapan hadirin di Harlem pada 1980.

“Semua perbaikan yang telah kami usahakan lenyap,” lanjutnya sebagaimana dinukil buku berjudul “American Jihad, Islam After Malcolm X” karya Steven Barbosa.

Baca juga: Warith Deen Mohammed, Imam Amerika yang Ubah Nation of Islam Jadi Islam Sunni

Merasa tidak puas, Farrakhan meninggalkan Nation of Islam yang kala itu dipimpin Warith D. Mohammed, purta Elijah Muhammad. Farrakhan mendirikan organisasinya sendiri, New Nation of Islam. Organisasi ini berdasarkan doktrin-doktrin Elijah Muhammad. Sedangkan Warith D. Mohammed mengubah organisasi yang didirikan ayahnya itu ke Islam Sunni.

Dalam buku yang diterjemahkan Sudirman Teba dan Fettiyah Basri menjadi “Jihad Gaya Amerika, Islam Setelah Malcolm X” (Mizan, 1995) dijelaskan dengan Nation barunya, Farrakhan mengangkat dirinya menjadi orang yang terkemuka di antara mereka-mereka yang merasa dikhianati oleh Warith Mohammed.

Farrakhan mencanangkan kembali gaya hidup asketik dan tata cara berpakaian: dasi kupu-kupu dan setelan yang necis, jubah dan tutup kepala.

Dia membentuk kembali Fruit of Islam dan Muslim Girls Training, yaitu kelompok ibu rumah tangga. Dan sebagaimana dalam NOI-nya Elijah, penerimaan anggota baru dilakukan setelah mereka mendapatkan “X”.

Baca Juga:  Penyebab Manusia Tak Mau Bersedekah, Padahal Fadhilahnya Sangat Besar

Gelar ini digunakan sebagai awalan bagi nama depan atau sebagai nama asli untuk menunjukkan bahwa orang tersebut dulunya dikenal dengan “nama budak”.

Anggota baru dapat memohon gelar “X” dengan menulis surat kepada Farad dan Elijah, yang mereka yakini masih hidup; surat itu dialamatkan ke kantor Farrakhan di Chicago.

Baca juga: Kisah Prof Ali S Asani: Bukan Sekadar Jihad di Harvard

Berkebangsaan Indian Barat
Louis Farrakhan dilahirkan di Bronx dengan nama Louis Eugene Walcott pada 1933. Ibunya adalah seorang berkebangsaan Indian Barat yang bekerja sebagai pelayan rumah tangga.

Farrakhan, yang gagap sewaktu kecilnya, dibesarkan sebagai anggota Gereja Episcopal. Keluarganya pindah ke Boston, di sana dia masuk ke sekolah negeri.

Dia melanjutkan ke perguruan tinggi di Carolina Utara, di mana dia menekuni olah raga atletik. Tetapi musik adalah hobi utamanya. Pada 1950-an, Farrakhan menjadi seorang penyanyi klub malam dan dibayar sebagai seorang penghibur. Dia menyanyikan lagu-lagu kalipso. Dia seorang pemain biola yang ulung. Pada hari-hari itu, dia mengaku, “Saya menghisap satu-dua batang ganja sehari.”

Dia pertama kali mendengar tentang Islam ketika diajak oleh seorang teman menghadiri pertemuan di Chicago. Kemudian dia mengunjungi kuil Nation di Harlem, mendengarkan Malcolm X, dan bergabung.

Elijah melarang pengikutnya menjadi penghibur, maka Farrakhan melepaskan karirnya. Konon dia menolak kontrak film yang belakangan ditandatangani oleh Harry Belafonte. Tetapi dia memanfaatkan bakatnya untuk menulis, menyanyi, dan mengiringi dengan biola lagu tidak resmi NOI, “A White Man’s Heaven is a Black Man’s Hell” (Surga Orang Kulit Putih adalah Nerakanya Orang Kulit Hitam).

Baca juga: Kisah Maryum Putri Muhammad Ali Berdakwah Lewat Musik Rap dan Komedi

Baca Juga:  Ibadah-ibadah Sunnah bagi Muslimah yang Bisa Jadi Haram

Hidup Mewah
Kepemimpinan telah mengubah hidup Farrakhan. Sejak masa kejayaan Elijah, ketika dia masih menjabat menteri NOI di Boston, keluarganya makan buncis panggang setiap malam, katanya.

Setelah memimpin organissinya keluarga Farrakhan (dia mempunyai sembilan anak) hidup mewah di sebuah tempat yang disebut sebagai “Istana” oleh para pengikutnya –sebuah rumah yang sangat besar dengan dinding pualam yang kokoh berkilau di pusat kota Chicago di daerah Hyde Park yang dahulu dimiliki oleh Elijah. Bangunan itu merupakan sebuah benteng berdinding tinggi dan dikelilingi pagar listrik.

Pada 1973, Farrakhan mengawal Elijah Muhammad masuk ke dalam istananya. Sebagaimana yang diingat Farrakhan, sementara orang-orang mengagumi bangunan yang disebut rumah itu, Elijah berkata kepadanya, “Saudaraku, Muhammad tidak akan berada di rumah ini dengan bertopang kaki sambil menikmati rumah yang sangat indah ini. Muhammad akan berada di rumah ini untuk memikirkan bagaimana caranya agar ke tujuh belas juta anggota kita dapat tinggal di rumah seperti ini.”

Source link

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Translate »
0
    0
    Your Cart
    Your cart is emptyReturn to Shop