Kisah Muslimah Amerika Attallah Shabazz, Putri Malcolm X Hadiah dari Tuhan

loading…

Attallah Shabazz adalah seorang aktris, penulis, diplomat, dan pembicara motivasi Amerika . Dia putri sulung pasangan Malcolm X dan Betty Shabazz. Attallah Shabazz lahir di Brooklyn, New York, pada 16 November 1958.

Sedangkan sang ayah, Malcom X, adalah juru bicara Nation of Islam hingga 1964. Dia seorang advokat vokal untuk pemberdayaan kulit hitam dan promosi Islam dalam komunitas kulit hitam.

Sang bunda, Betty Shabazz lahir 1934 dan meninggal 1997 dikenal sebagai Betty X, adalah seorang pendidik dan advokat hak sipil Amerika. Pada tahun 1956, ia bergabung dengan Nation of Islam.

Baca juga: Kisah Muslim Amerika Akbar T. Salaam Jadi Juragan Sosis Halal

Steven Barbosa dalam bukunya berjudul “American Jihad, Islam After Malcolm X” menceritakan 4 dari 6 putri Malcolm X menyaksikan sebuah peristiwa horor yang hampir tidak dapat dipercaya di Audubon Ballroom, 21 Februari 1965.

Sebuah bedil berlaras dua ditembakkan dari jarak dekat, membuat sebuah lobang yang mematikan di dada ayah mereka. Karena salah seorang dari anak-anak itu meratap dan meraung-raung, takut kalau-kalau pembunuh itu akan membunuh semua orang, ibu mereka, Betty Shabazz, segera mendorong mereka ke bawah kursi dan melindungi mereka dengan tubuhnya.

Anak-anak dan ibunya selamat dari peristiwa yang menimbulkan trauma itu. Mereka melewati hari-hari yang begitu menyedihkan. Hidup mereka senantiasa dalam ketakutan, dihantui oleh ingatan akan peluru-peluru yang beterbangan, kegelisahan, dan orang yang sangat mereka cintai terkapar mati di lantai ruang pesta yang lembab.

Attallah Shabazz, putri tertua Malcolm, mewarisi warna kulit, wajah, keseriusan, sikap teguh, dan postur ayahnya yang agung. Dia tinggi semampai, dengan rambut panjang yang dikepangnya dengan jalinan memanjang ke punggungnya.

Baca Juga:  Mengkoneksikan Diri Dengan Ilmu

Dia bermata hijau, paling tidak menurut surat izin mengemudinya, walaupun tampaknya agak kebiruan atau keabu-abuan, “Tergantung pada siapa yang melihatnya.”

Sebagai seorang bocah, dia menciptakan “kolaborasi” orisinal (“musik, seni, tari, puisi, serta tangis dan tawa”) menjembatani jurang pemisah antara orang-orang dan kebudayaan yang ada di sana (“untuk menunjukkan bahwa kita saling berhubungan dalam satu dan lain hal dari segi dentuman gendang dan denyut jantung”). Dia mengambil bidang hukum internasional sebagai pelajaran utamanya di Briar Cliff College; tetapi tidak sampai lulus. “Saya harus mencari nafkah,” tuturnya. Dia menulis, mengajar, berkarya.

Baca juga: Kisah Mualaf Amerika Idris Diaz Pergi Haji Dibiayai Orang Yahudi

Berikut adalah penuturan Attallah Shabazz selengkapnya sebagaimana dinukil dalam buku yang diterjemahkan Sudirman Teba dan Fettiyah Basri menjadi “Jihad Gaya Amerika, Islam Setelah Malcolm X” (Mizan, 1995).

Sesungguhnya terdapat persamaan-persamaan dalam ajaran-ajaran berbagai agama. Jadi ketika nenek saya berkata pada saya, “Jadilah kamu seorang gadis cilik Kristen yang baik karena kamu sekolah hari ini,” dan ketika ibu saya berkata, “engkau harus menjadi seorang gadis kecil Muslim yang baik,” kedua kalimat itu sesungguhnya menyiratkan arti yang sama.

Saya senang dan bahagia menjadi pemeluk agama yang menyatakan bahwa dasar ajarannya adalah persaudaraan. Perpindahan atau pergantian agama bagi saya tidak penting. Tetapi saya akan mengatakan bahwa mungkin saya sedikit mengalami pembentukan (jiwa) kembali dibanding dengan orang-orang lain yang meminta saya untuk berperilaku atau berfungsi menurut yang disarankan oleh orang lain.

Orang-tua saya mungkin saja telah membantu saya atau justru mentidakadili saya dengan memberitahu saya ketika saya masih berumur tiga atau empat tahun bahwa Tuhan adalah teman saya dalam setiap keadaan. Jadi saya tidak perlu khawatir tentang apa pun yang dikatakan orang lain.

Baca Juga:  Jadwal Puasa Sunnah Januari 2023 Bertepatan Jumadil Akhir dan Rajab

Bahkan apabila sekarang orang tua saya marah pada saya, saya tahu bahwa Tuhan masih tetap menjadi teman saya. Maka secara Islami saya merasa sangat aman. Pakaian dan gaya hidup saya mungkin sangat dekat dengan kebudayaan di sekeliling saya. Tetapi saya tidak akan menggampangkannya; saya hanya melakukan yang nyaman bagi saya.

Baca juga: Kisah Mualaf Amerika Robert Dickson Crane, Mulanya Muak terhadap Islam

Teman Pertama
Ayah saya adalah teman saya yang pertama. Sahabat saya dalam kesulitan. Dia adalah seseorang yang dengannya saya dapat berbagi segalanya.

Kebanyakan orang merasa takut kepada orangtuanya atau menyembunyikan hal-hal tertentu dari mereka, karena mereka tidak ingin dianggap salah di mata orangtuanya.

Saya tidak merasa bersalah kalau punya suatu pendapat, suatu pemikiran –saya dapat menyampaikan padanya segala hal yang terlintas di pikiran saya. Saya tidak pernah dianggap “kurang” karena saya tidak mengikuti pola yang mereka harapkan. Saya diperbolehkan menjadi diri saya sendiri.

Source link

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Translate »
0
    0
    Your Cart
    Your cart is emptyReturn to Shop