Kisah Penantian Orang yang Suka Tidur di Gerbang Surga

loading…

Kisah berikut merupakan bahan ajaran darwis yang disukai. Walaupun dikenal sebagai cerita rakyat, asal usulnya tidak diketahui. Beberapa orang menganggapnya berasal dari Hadrat Ali , Khalifah Keempat. Yang lain mengatakan bahwa kisah ini begitu penting sehingga disampaikan oleh Nabi sendiri, secara rahasia. “Yang pasti, kisah ini tidak ditemukan dalam Hadis Nabi yang sahih,” ujar Idries Shah dalam buku berjudul Tales of The Dervishes.

Menurut Idries, bentuk sastra yang ditampilkan di sini berasal dari karya seorang darwis tak dikenal dari abad ke-17, Amil-Baba, yang naskah-naskahnya menekankan bahwa ‘pengarang sejati adalah dia yang karangannya tanpa nama karena dengan cara itu tak ada yang berdiri di antara pelajar dan yang dipelajarinya.’

Berikut kisah yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Ahmad Bahar menjadi “Harta Karun dari Timur Tengah – Kisah Bijak Para Sufi”, (Kanisius) tersebut:

Baca juga: Kisah Sufi: Ketika Setan Kehilangan Pekerjaan

Zaman dahulu ada seorang lelaki baik hati. Ia telah menjalani hidupnya dengan melakukan segala hal yang memungkinkan orang masuk surga. Ia menolong orang miskin, mengasihi sesamanya, dan melayani mereka.

Mengingat pentingnya kesabaran, ia bertahan menanggung kesulitan besar yang terkadang tak terduga, dan sering kali ini dilakukannya demi kebahagian orang lain.

Ia pun berkelana ke berbagai tempat untuk mendapatkan pengetahuan. Kerendahan hati dan perilakunya yang pantas ditiru dikenal dari Timur ke Barat dan dari Utara ke Selatan; orang-orang memujinya sebagai seorang bijaksana dan warga yang baik.

Segala kebajikan ia jalankan kapan pun ia ingat untuk melakukannya. Namun, ia mempunyai satu kekurangan yaitu kurang perhatian.

Kecenderungan ini memang tidak begitu kuat, ia menyadarinya, dan bila dibandingkan dengan semua kelebihannya, kekurangan itu sungguh hanyalah cacat kecil saja.

Baca Juga:  Hukum Bacaan Tajwid Surat Al-Kahfi Ayat 1-3 dan Penjelasannya

Ada sejumlah orang miskin yang belum ditolongnya, sebab dari waktu ke waktu ia kurang perhatian terhadap kebutuhan mereka. Cinta kasih dan pelayanan pun kadang terlupakan apabila apa yang dipikirkannya adalah keperluan atau hasrat pribadi yang muncul dalam dirinya.

Baca juga: Kisah Sufi, Putri yang Tidak Patuh

Ia suka sekali tidur. Dan kadang-kadang ketika ia sedang tidur, kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan, atau memahaminya, atau melaksanakan kerendahan hati, atau menambahkan jumlah tindakan-tindakannya yang baik, kesempatan-kesempatan serupa itu lewat begitu saja, dan tidak kembali lagi.

Sama seperti karakternya yang baik meninggalkan kesan pada diri sejatinya, begitu pula karakternya yang buruk tadi.

Kemudian, ia meninggal. Menyadari dirinya berada di alam baka, dan sedang berjalan menuju pintu-pintu Taman Bertembok, orang itu berhenti sebentar. Ia menguji kata hatinya. Ia merasa mempunyai kesempatan yang besar untuk memasuki Gerbang Mulia itu.

Tiba-tiba, dilihatnya gerbang itu tertutup; lalu terdengar suara berkata kepadanya: “Berjaga-jagalah senantiasa; sebab gerbang ini hanya terbuka sekali dalam seratus tahun.”

Ia pun tinggal di sana menunggu, penuh gairah menantikan dibukanya kembali gerbang tersebut. Tetapi, mengabaikan kesempatan untuk melakukan kebajikan bagi manusia, ia mendapati bahwa kemampuannya untuk memperhatikan tidaklah cukup bagi dirinya.

Setelah berjaga terus selama waktu yang rasanya sudah seabad, kepalanya terkantuk-kantuk. Segera saja kelopak matanya menutup. Dan dalam saat yang sekejap itu gerbang pun terbuka.

Sebelum mata lelaki itu benar-benar terbuka kembali, gerbang itu pun tertutup dengan suara gemuruh yang cukup dahsyat untuk membangunkan orang mati.

Baca juga: Kisah Sufi: Berharga dan Tak Berharga

(mhy)

Source link

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Translate »
0
    0
    Your Cart
    Your cart is emptyReturn to Shop