Kisah Tazim Jaffer Pengikut Ajaran Aga Khan yang Selalu Merindukan Masjid

loading…

Tazim Jaffer lahir di Dodoma, Tanzania dan dibesarkan di Dar es Salaam. Ia menikah di Dublin, Ireland. Selanjutnya ia tinggal di Midwestern, Amerika Serikat. Ia dibesarkan dalam keluarga Isma’ili tradisional yang mengikuti ajaran Aga Khan.

Sebagai catatan, Aga Khan adalah pemimpin spiritual dari kelompok Nizari, cabang Isma’ili. Sebutan Aga Khan diberikan kepada Abu-l Hasan ‘Ali Shah pada 1818 oleh Shah Persia. Pada 1841, setelah pemberontakan yang gagal melawan Shah, Aga Khan I melarikan diri dari Persia ke Afganistan kemudian ke Bombay. Sejak tahun 1957, pemegang gelar Aga Khan adalah Imam ke-49, Pangeran Shah Karim al-Husseini, Aga Khan IV (lahir 1936).

Pengikut-pengikutnya percaya bahwa dia adalah Imam Isma’ili Nizari yang ke-49 dalam garis keturunan yang tidak terputus. Sekarang mungkin terdapat lebih dari dua juta Isma’ili.

Baca juga: Pandangan Islam Terhadap Syiah dan Ahmadiyah

Teologi Ismailiyah pernah menjadi yang terbesar di antara mazhab-mazhab Islam Syi’ah, dan mencapai puncak kekuasaan politiknya pada masa kekuasaan Dinasti Fatimiyah pada abad ke-10 sampai dengan ke-12 Masehi. Ajaran Ismailiyah, yang juga dikenal dengan nama mazhab Tujuh Imam. Ajaran Ismailiyah memiliki ciri penekanan pada aspek batiniah dari agama Islam.

Meskipun terdapat beberapa kelompok pecahan dalam Ismailiyah, seperti Nizari. Mereka adalah pengikut dari Aga Khan, yang merupakan kelompok Ismailiyah dengan jumlah penganut terbesar. Di antara kelompok-kelompok yang ada memang terdapat perbedaan dalam hal kebiasaan ibadah, akan tetapi umumnya secara teologi spiritual tetap sesuai dengan kepercayaan imam-imam awal Ismailiyah.

Kaum penganut Ismailiyah umumnya dapat ditemukan di Indonesia, India, Pakistan, Suriah, Lebanon, Israel, Arab Saudi, Yaman, Tiongkok, Yordania, Uzbekistan, Tajikistan, Afganistan, Afrika Timur dan Afrika Selatan. Pada beberapa tahun terakhir, sebagian di antara mereka juga beremigrasi ke Eropa, Australia, Selandia Barudan Amerika Utara.

Baca Juga:  Gambaran Siksa Kubur dan 4 Amalan yang Menyelamatkan

Steven Barbosa dalam bukunya berjudul “American Jihad, Islam After Malcolm X” menyebut Tazim Jaffer termasuk kelompok minoritas di mana pun dia berada. Nenek moyangnya dibawa ke Afrika untuk membuat jalur kereta api British, dan ketika kemerdekaan Afrika tiba, situasi politik dan ekonomi menjadi tak dapat ditanggulangi oleh keluarganya.

Keadaan ini memaksa mereka untuk berpencar ke seluruh penjuru dunia. Beberapa tahun yang lalu, dia berjumpa dengan sanak keluarganya di bandara Kennedy, Heathrow, dan Bombay. Semuanya terjadi dalam satu hari. Masing-masing tinggal di negara yang berlainan, masing-masing bepergian ke arah yang berlainan. Untuk menenteramkan diri atas keadaannya yang ganjil itu, dia berkesenian. Dia membentuk dan mendefinisikan kembali batas-batasnya sendiri.

Baca juga: Kisah Mualaf Amerika Idris Diaz Pergi Haji Dibiayai Orang Yahudi

Berikut penuturan Tazim Jaffer tentang dirinya selengkapnya sebagaimana dinukil buku yang diterjemahkan Sudirman Teba dan Fettiyah Basri menjadi “Jihad Gaya Amerika, Islam Setelah Malcolm X” (Mizan, 1995) tersebut.

Saya dibesarkan dalam keluarga Isma’ili tradisional. Suatu kali saya mendapatkan banyak tekanan dari saudara-saudara saya untuk segera menikah. Saya menentang mereka karena saat itu saya sedang jatuh cinta. Calon suami saya pergi melanjutkan sekolah ke bagian kedokteran ketika saya masih di Afrika. Saya memutuskan tidak akan menikahi orang lain; saya akan menanti sampai dia selesai.

Akhirnya ketika dia telah menyelesaikan studinya, kami menikah di kantor catatan sipil di Dublin. Saya mengenakan rok mini dari kulit.

Muslim Isma’ili mengikuti Aga Khan. Aga Khan yang terdahulu menasehati kami untuk menanggalkan pakaian tradisional kami dan mencoba berasimilasi. Beberapa wanita yang lebih tua, ketika saya masih anak-anak, biasa memakai gaun panjang. Aliran Aga Khan benar-benar telah mengangkat status kaum wanita dalam masyarakat Isma’ili.

Baca Juga:  Mengenal Zakat Profesi

Salah satu yang dikatakannya adalah, jika Anda mempunyai uang yang cukup untuk menyekolahkan salah satu anggota keluarga Anda, Anda harus mengutamakan menyekolahkan anak perempuan Anda.

Saya ingat ayah saya –dia harus memilih salah satu anaknya untuk disekolahkan– dia mengirimkan saudara perempuan saya dan bukannya saudara lelaki saya ke Inggris untuk mendapatkan pendidikan.

Baca juga: Kisah Mualaf Amerika Robert Dickson Crane, Mulanya Muak terhadap Islam

Keadaan sekarang sudah berbeda, karena para wanita merupakan pemimpin di masyarakat; mereka lebih berpendidikan; mereka pergi ke daerah pedalaman untuk mendidik orang lain, lalu para lelaki mengambil alih masalah keluarga. Pendidikan mereka tidak sederajat. Hal ini menimbulkan masalah pada beberapa kasus.

Ibu saya meninggal dunia ketika saya masih berumur dua tahun. Ayah saya meninggal ketika saya berusia belasan tahun. Saya dibesarkan oleh kakak-kakak saya dan mereka pun masih muda-muda. Saya tidur di bawah kelambu. Saya mempunyai sedikit kenangan tentang tempat saya dilahirkan.

Saat itu rumah kami masih belum sempurna, sangat sederhana. Rumah tersebut dibangun dari batu kapur dan beratapkan seng bergelombang yang dilapisi ilalang di atasnya. Kami bersaudara banyak sekali dan tidur bersama di satu tempat tidur.

Source link

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Translate »
0
    0
    Your Cart
    Your cart is emptyReturn to Shop