Nasihat yang Perlu Disampaikan saat Membezuk Orang Sakit

loading…

Syaikh Yusuf al-Qardhaw i mengatakan sudah selayaknya bagi seorang yang menjenguk saudaranya sesama muslim yang sakit untuk memberinya nasihat dengan jujur, menyuruhnya berbuat ma’ruf dan mencegahnya dari kemunkaran, karena ad-Din itu adalah nasihat, dan amar ma’ruf nahi munkar merupakan suatu kewajiban. Sedangkan sakitnya seorang muslim tidak membebaskannya dari menerima perkataan yang baik dan nasihat yang tulus.

“Semua yang dituntut itu hendaklah dilakukan oleh si pemberi nasihat dengan memperhatikan kondisinya, yaitu hendaklah dilakukan dengan lemah lembut dan jangan memberatkan, karena Allah Ta’ala menyukai kelemahlembutan dalam segala hal dan terhadap semua manusia, lebih-lebih terhadap orang sakit,” ujar Al-Qardhawi dalam bukunya berjudul “Fatwa-Fatwa Kontemporer” (Gema Insani Press).

Menurutnya, tidaklah kelemahlembutan itu memasuki sesuatu melainkan menjadikannya indah, dan tidaklah ia dilepaskan dari sesuatu melainkan akan menjadikannya buruk.

Kelemahlembutan semakin ditekankan apabila si sakit tidak mengerti terhadap kebajikan yang ditinggalkannya atau kemunkaran yang dilakukannya, seperti terhadap kebanyakan putra kaum muslim yang tidak mengerti keunggulan Islam.

Baca juga: Dahsyatnya Keutamaan Menjenguk Orang Sakit

Oleh sebab itu, ujar al-Qardhawi, seseorang yang menjenguk orang sakit yang kebetulan tidak mau melaksanakan sholat karena malas atau karena tidak mengerti, yang mengira tidak dapat menunaikan sholat, karena tidak dapat berwudhu, atau karena tidak dapat berdiri, ruku’, sujud, atau tidak dapat menghadap ke arah kiblat, atau lainnya, maka wajiblah si pengunjung mengingatkannya.

Dia harus menjelaskan bahwa sholat wajib dilaksanakan oleh orang yang sakit sebagaimana diwajibkan atas orang yang sehat, dan kewajibannya itu tidak gugur melainkan bagi orang yang hilang kesadarannya.

Dijelaskan juga bahwa orang sakit yang tidak dapat berwudhu boleh melakukan tayamum dengan tanah jenis apa pun, dan boleh dibantu dengan diambilkan pasir/tanah yang bersih yang ditempatkan di dalam kaleng atau tempat lainnya, juga bisa dengan batu atau lantai tergantung mazhab yang memandang hal itu sebagai permukaan bumi yang bersih.

Baca Juga:  KEMBALIKAN SEMUANYA KEPADA ALLOH

Begitu pula si sakit, ia boleh melaksanakan sholat dengan cara bagaimanapun yang dapat ia lakukan, dengan duduk kalau ia tidak mampu berdiri, atau dengan berbaring di atas lambungnya, atau telentang di atas punggungnya (yakni punggungnya di bawah), jika ia tidak dapat duduk, dan cukup dengan berisyarat. Nabi SAW bersabda kepada Imran bin Hushain:

“Sholatlah engkau dengan berdiri. Jika tidak dapat, maka hendaklah dengan duduk; dan jika tidak dapat (dengan duduk) maka hendaklah dengan berbaring.” (HR Bukhari, Ahmad, dan Ashhabus-Sunan sebagaimana disebut dalam Shahih al-Jami’ush-Shaghir, hadits nomor 3778).

Demikian pula jika ia tidak dapat menghadap kiblat, maka gugurlah kewajiban menghadap kiblat itu, dan boleh ia menghadap ke arah mana saja. Maka, setiap syarat sholat yang tidak dapat ditunaikan menjadi gugur, dan Allah telah berfirman:

“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke mana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah …” (QS al-Baqarah: 115)

Baca juga: Membaca Al Fatihah untuk Orang Sakit

Pahala Sakit
Al-Qardhawi mengingatkan apabila tampak si sakit merasa kesal terhadap penyakitnya atau merasa sempit dada karenanya, maka hendaklah ia diingatkan akan besarnya pahala bagi si sakit di sisi Allah.

Selain itu, sebaiknya diingatkan bahwa Allah hendak menyucikannya dari dosa-dosanya dengan penyakit tersebut, dan bahwa orang yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang yang dibawahnya, kemudian yang dibawahnya lagi, dan ujian itu akan senantiasa menimpa seseorang sehingga ia hidup di muka bumi dengan tidak menanggung suatu dosa, sebagaimana dinyatakan dalam beberapa hadits sahih.

Maka apabila didapati sesuatu yang dilarang syara’ pada si sakit, hendaklah ia dilarang dengan lemah lembut dan bijaksana, dan dikemukakannya kepadanya dalil-dalil syara’ yang dapat menghilangkan ketidaktahuan dan kelalaiannya.

Baca Juga:  Kisah Seorang Imam Masjid di London

Cara yang dilakukan tidak boleh kasar dan terkesan menyombonginya, khususnya mengenai bencana yang banyak melanda masyarakat,
misalnya mereka yang menggantungkan jimat-jimat dan sebagainya.

Di sini, hendaklah ia memberitahukannya tentang ayat-ayat Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW yang menuntunnya kepada kebenaran dan membimbingnya ke jalan yang benar, seperti sabda Nabi SAW:

“Barangsiapa yang menggantungkan jimat-jimat, maka sesungguhnya ia telah melakukan perbuatan syirik.” (HR Ahmad dan Hakim dari Uqbah bin Amir)

Selain itu, tidak boleh ia (si penjenguk) mengingkari sesuatu terhadap si sakit kecuali apa yang telah disepakati oleh para ulama akan kemunkarannya.

Source link

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Translate »
0
    0
    Your Cart
    Your cart is emptyReturn to Shop