Seni Menghadapi Bala’ Ketika Menimpa Orang Beriman

loading…

Ujian dalam bahasa arab disebut ibtila’. Kata ibtila’ ini diambil dari kata kerja abtala’. Bentuk aslinya adalah bala’. Dalam Al-Qur’an, beberapa kali Allah Subhanahu wa Ta’ala menggunakan kata bala’ dalam beberapa variasi kata.

Dalam Surat Al-Anbiya ayat 35 Allah berfirman :

وَنَبْلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ…

“….Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.”

Baca juga: Tafsir Surat Al-Anbiya Ayat 35 Tentang Ujian

Dalam Surat Al-Baqarah ayat 124 Allah berfirman :

… وَإِذِ ٱبْتَلَىٰٓ إِبْرَٰهِۦمَ رَبُّهُ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya..”

Dalam buku ‘Raddul bala’ bid du’a wadz dzikri was shodaqoti wal istighfar’, karya Musthafa Syaikh Ibrahim Haqqi, menjelaskan bahwa bala dan perkara besar diturunkan Allah Ta’ala kepada orang mukmin untuk membuktikan sejauh mana kesabarannya. karena pada hakekatkanya bala’ adalah ujian. Dan bisa juga berarti cobaan dan musibah . Bentuk bala’ bisa berupa yang disenangi (kebaikan) atau yang tidak disenangi manusia (keburukan).

Ibtila’ atau bala’ atau ujian adalah salah satu sunnatullah yang berlaku atas pengemban dakwah Islam sejak dimulainya penciptaan manusia. Bala’ adakalanya terasa sulit, akan tetapi Allah mengangkat derajat para nabi dan orang beriman dan menghapus kesalahan-kesalahan orang-orang salih itu dengan adanya ujian atau bala’ tersebut.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ﴿١٥٥﴾ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ﴿١٥٦﴾ أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Innaa lillahi wainnaailaihiraaji’uun” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah :155-157).

Baca Juga:  Contoh Dosa Riba di Sekitar Kita yang Jarang Disadari

Hikmah Allah mengharuskan adanya perbedaan antara orang yang baik dengan buruk, dan ini hakikatnya merupakan faedah dari ujian (yang diberikan). Ujian itu bukan untuk menghilangkan keimanan dan mengeluarkan seseorang dari agamanya, karena Allah tidak akan menyia-nyiakan keimanan hamba-Nya.

Oleh karenanya, pada ayat ini Allah mengabarkan bahwa Dia akan menguji para hamba-Nya (dengan sedikit ketakutan) dari musuh-musuh. (Kelaparan) maksudnya : Allah akan menguji dengan sedikit dari dua perkara tersebut. Kalau seandainya Allah uji mereka dengan keseluruhan rasa takut dan lapar, maka niscaya mereka akan binasa. Sedangkan ujian itu fungsinya untuk memilih (yang terbaik), bukan membinasakan.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan bahwa ada pahala berlipat dan banyak sesuai dengan besarnya cobaan dan ujian yang terjadi pada diri seorang hamba di dunia. Ya, yakni apabila dia bersabar dan mengharap pahala dengan datangnya ujian itu. Sebab di antara tanda kecintaan Allah Ta’ala kepada hamba-Nya adalah Allah akan memberikan cobaan kepadanya.

Maka apabila hamba itu ridha dengan keputusan dan ketentuan dari Allah, dan hanya mengharap pahala serta berbaik sangka kepada Allah, maka Allah akan ridha dan memberikan pahala kepadanya. Akan tetapi jika ia marah dengan keputusan Allah dan berkeluh kesah dengan musibah yang menimpanya, maka Allah pun akan marah kepadanya dan akan menghukumnya.

Musibah, cobaan, ujian, wabah, sakit, bencana, kematian itu adalah takdir Allah dan pilihan Allah untuk kita, Allah Maha Tahu tentang manfaat buat diri, keluarga, dan masyarakat, Allah Maha Adil dan Maha Bijaksana. Apa saja yang menimpa kita merupakan Kebijaksanaan sekaligus Rahmat Allah dan juga Allah mencintai kita kalau kita sabar dan ridho. Keluhan, penyesalan dan putus asa atas musibah, cobaan, ujian, tidak akan dapat mengubah takdir Allah, bahkan orang itu hilang pahalanya dan berdosa, bahkan Allah murka kepadanya.

Baca Juga:  Inilah Contoh Terbaik yang Rutin Mengamalkan Qiyamul Lail

Musibah, cobaan, ujian, wabah, penyakit, bahkan gempa itu tidak berlangsung terus-menerus. Setiap kesulitan pasti ada kemudahan, setiap kesempitan pasti ada kelapangan, dan Allah akan ganti dengan yang lebih baik dari berbagai macam kenikmatan. Maka Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk bersabar. Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai orang-orang yang sabar, dan Allah Azza wa Jalla bersama orang-orang yang sabar.

Baca juga: Terjadinya Musibah dan Malapetaka, Berawal karena Seringnya Meremehkan Dosa

Wallahu A’alam

(wid)

Source link

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Translate »
0
    0
    Your Cart
    Your cart is emptyReturn to Shop